Lemari kayu tua di pojok kamar itu sudah seperti saksi perjalanan hidup ayah. Di dalamnya, tergantung rapi baju-baju dinas lama berwarna cokelat muda, sisa masa pengabdiannya sebagai pegawai negeri.
Di salah satu saku baju itu, ayah selalu menyimpan uang. Entah sejak kapan kebiasaan itu dimulai, yang jelas semua anaknya tahu.
Termasuk Dimas.
Suatu sore, saat langit berwarna tembaga dan suara azan magrib menggema dari surau, Dimas membuka lemari itu dengan perasaan campur aduk. Ia butuh uang enam juta rupiah untuk menambal biaya rumah kontrakan yang menunggak dan pengobatan anaknya yang sedang sakit.
Di kepalanya, suara istrinya terdengar lirih, “Kita harus bayar besok, Mas, kalau tidak… kita diusir.”
Tangannya gemetar saat menyentuh saku baju tua itu. Ada amplop berisi uang, baru, masih beraroma khas kertas bank. Ia tahu itu gaji pensiun ayahnya bulan lalu, yang mungkin belum sempat dipakai.
“Maaf, Yah… nanti aku ganti. Sungguh,” bisiknya, sebelum memasukkan amplop itu ke saku celana.
Ia tidak merasa mencuri. Ia hanya meminjam tanpa izin. Ia yakin ayahnya tak akan tahu, sebab ayah memang jarang menghitung uang di saku bajunya kecuali saat butuh.
Namun, pagi berikutnya, dunia seakan berhenti berputar.
Dimas yang datang ke rumah untuk menengok ayah, melihat lelaki tua itu duduk termenung di tepi ranjang. Wajahnya murung, kedua tangannya menggenggam baju dinas yang sama yang saku bajunya kini kosong.
“Kenapa, Yah?” tanya Dimas, mencoba terdengar tenang.
Ayahnya menatap kosong ke lantai, kemudian berkata pelan, “Uang di saku baju ayah hilang, Dim. Enam juta. Padahal ayah mau nambahin dengan gaji ke-13 yang baru diambil pagi ini… rencananya mau ayah kasih ke kamu. Ayah dengar kamu lagi susah.”
Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari pisau. Dimas terdiam. Tenggorokannya tercekat, udara di sekitarnya seolah lenyap.
Ayahnya melanjutkan, dengan suara serak yang nyaris tak terdengar, “Ayah nggak marah, mungkin uang itu salah simpan. Tapi ayah sedih… bukan karena uangnya, tapi karena ayah nggak bisa bantu kamu tepat waktu.”
Dimas menunduk, menahan air mata yang mulai mendesak keluar. Dunia seakan runtuh di dadanya. Uang yang ia ambil diam-diam ternyata memang disiapkan untuk dirinya.
Tiba-tiba, semua alasan yang dulu terasa masuk akal kini jadi tidak berarti. Tidak ada lagi kata “meminjam.” Yang ada hanya rasa bersalah yang menyesakkan.
Ia mendekat, berlutut di depan ayahnya.
“Yah… maafin Dimas,” suaranya bergetar.
Ayah menatap heran.
“Itu… uangnya… Dimas yang ambil. Dimas pikir nanti kalau sudah dapat gaji proyek, Dimas balikin. Dimas cuma… cuma pengin bantu keluarga dulu, Yah.”
Hening.
Ayah memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengelus kepala anaknya pelan.
“Dimas… sejak kecil ayah ajarin kamu jujur, bukan karena ayah nggak mau kehilangan uang, tapi karena ayah nggak mau kehilangan kepercayaan. Uang bisa dicari, Nak… tapi hati yang retak itu susah disembuhkan.”
Dimas menangis sejadi-jadinya. Ia menunduk di pangkuan ayahnya, seperti anak kecil yang dulu takut dimarahi karena memecahkan gelas. Tapi kali ini tidak ada amarah, hanya kehangatan dan luka yang bercampur jadi satu.
Beberapa hari kemudian, Dimas mengembalikan uang itu dengan amplop yang sama. Ia selipkan di saku baju ayah, di tempat semula. Bersamaan dengan selembar kertas kecil:
“Maaf, Yah. Terima kasih sudah mengajarkan arti kejujuran, bahkan saat aku sudah hampir melupakannya.”
Dan setiap kali Dimas melihat baju cokelat tua itu, ia selalu teringat satu hal bahwa kadang cinta orang tua tak selalu diucapkan dengan kata, melainkan disimpan diam-diam di saku bajunya.
