April 15, 2026
Media Informasi
Fiksi Terbaru

Lagu Kecil dan Boneka Kain

Suara riang anak-anak PAUD memenuhi ruangan kecil dengan dinding yang dicat warna-warni. Mereka berdiri berbaris, menyanyikan lagu sederhana: “Balonku ada lima…” Suara fals bercampur tawa, tapi justru itulah yang membuat suasana hangat.

Bunda Ela berdiri di pintu kelas, matanya berbinar melihat puluhan wajah mungil yang polos. Ia menunduk, menyapa satu per satu, bahkan berjongkok agar sejajar dengan pandangan anak-anak.

“Halo, siapa yang mau jadi dokter?” tanyanya lembut.
Serentak tangan kecil terangkat. Ada yang menjawab dokter, ada yang guru, bahkan ada yang spontan berteriak, “Mau jadi Bunda Ela!”

Tawa pecah. Bunda Ela menutup mulutnya, tersipu. Ia lalu ikut bernyanyi bersama anak-anak, suaranya tak kalah lantang, meski napasnya cepat habis. Di sela itu, ia melihat seorang guru PAUD duduk di pojok, wajahnya letih tapi penuh kasih.

Usai nyanyi, Bunda Ela mendekati guru itu. “Ibu capek sekali ya?” tanyanya lirih.
Guru itu tersenyum kaku. “Kami senang, Bu. Tapi mainan anak-anak banyak yang rusak. Gaji kami pun pas-pasan. Kadang saya pakai uang pribadi untuk beli kapur atau kertas.”

Bunda Ela terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia membuka tas besar yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa boneka kain, puzzle kayu, dan kartu huruf buatan pengrajin lokal.
“Ini bukan hadiah, Bu. Ini titipan harapan. Anak-anak belajar, pengrajin kita pun hidup. Mari kita ajarkan sejak kecil, cinta pada karya sendiri.”

Anak-anak langsung berebut boneka kain, tertawa, memeluk erat seolah menemukan teman baru. Sang guru tak bisa menahan air mata. Ia menggenggam tangan Bunda Ela erat-erat.
“Terima kasih, Bunda. Selama ini kami merasa sendiri.”

Bunda Ela balas menggenggam. “Tidak ada guru yang sendiri. Kalian adalah pahlawan pertama yang membentuk masa depan bangsa. Saya hanya singgah sebentar, tapi doa saya bersama Ibu setiap hari.”

Saat pulang, Bunda Ela menoleh sekali lagi. Anak-anak masih bernyanyi sambil memainkan boneka kain itu. Suara mereka pecah-pecah, tapi bagi Bunda Ela, itulah simfoni terindah.

Dan di hatinya, ia menulis diam-diam:
“Kadang suara kecil anak-anak lebih nyaring daripada teriakan politik. Karena dari mereka, aku belajar arti ketulusan yang murni.”(anonim).

Cerpen yang terinspirasi dari perjalanan hidup seorang Perempuan Hebat

Related posts

Jelang HUT KORPRI ke-54, Satgas Baladhika DP KORPRI Kuningan Gelar Baksos di Cisantana

Redaksi

Gubernur Dedi Mulyadi Bikin Gebrakan! 1 Juta Pekerja Informal di Jabar Dapat Asuransi BPJS Ketenagakerjaan Gratis

Redaksi

14.403 SPPG Siap Layani Program Makan Bergizi Gratis, BGN Pastikan Pemerataan dan Kualitas Layanan

Redaksi

Leave a Comment