Cerpen Satir
Di sebuah tikungan sunyi yang lebih sering dilewati angin daripada manusia, berdirilah sebuah warung kecil dengan papan reyot bertuliskan: “BENSIN ECERAN, ASLI, BUKAN CAMPURAN”
Pemiliknya bernama Mang Seno, lelaki paruh baya yang rambutnya lebih kusut daripada selang bensin yang ia gulung setiap sore.
Sejak sepuluh tahun lalu ia setia menjaga warung kecil itu, meskipun sebenarnya ia tidak pernah bercita-cita menjadi penjual bensin eceran.
Cita-citanya dulu ingin jadi penyanyi dangdut keliling, tetapi hidup berkata: “Udahlah, jangan maksa.”
Setiap hari Mang Seno menunggu pelanggan. Dan seperti biasa, pelanggan hanya datang dalam tiga kondisi:
- Kepepet,
- Kepepet banget,
- Sudah mau nyerah lalu ingat masih ada Mang Seno.
Mang Seno sadar betul, dirinya bukan pilihan utama. Orang-orang yang membeli bensinnya kebanyakan orang-orang yang hanya mampir untuk menyambung nafas kendaraannya sampai SPBU terdekat
Suatu siang, datanglah seorang pemotor muda mendorong motornya dengan napas seret seperti baru habis lomba tarik tambang.
“Bang… isi lima ribu,” katanya dengan wajah tak berdosa.
Mang Seno mengangguk sabar. “Ah, pelanggan level satu: kepepet.”
Ia menuang bensin dengan hati-hati, seperti sedang memberikan infus ke pasien di UGD. Sang pemuda pun pergi tanpa terima kasih.
Sore harinya, datang mobil sedan mulus. Sopirnya turun sambil memakai kacamata hitam yang harganya mungkin bisa membiayai Mang Seno buat liburan ke Bali seminggu.
“Bang, minta bensin sepuluh ribu. Darurat,” katanya.
Mang Seno tersenyum kecil. “Ini pelanggan level dua: kepepet tapi gengsi.”
Setelah mengisi, si sopir bertanya, “Bang, SPBU jauh ya?”
Mang Seno menghela napas panjang, “Nggak jauh, Pak. Cuma Bapak kebablasan 200 meter.”
Sopir itu tersenyum kecut lalu pergi, meninggalkan aroma parfum mahal bercampur asap knalpot. Mang Seno menatap kepergiannya sambil bergumam:
“Jauh itu bukan soal jarak, Pak… tapi soal kesadaran.”
Menjelang magrib, datanglah pelanggan terakhir: seorang bapak-bapak yang tampaknya sudah berdamai dengan kenyataan hidup. Motornya mogok, helmnya penyok, dan sandal jepitnya tidak sepasang.
“Bang… isi berapa aja yang penting hidup…” katanya lirih.
Mang Seno menangkap aura deep sadness itu. “Ini pelanggan level tiga: benar-benar tersesat dalam hidup.”
Ia mengisi bensin sambil menepuk bahu si bapak, “Tenang, Pak. Saya ngerti. Semua orang punya masa-masa seperti ini.”
Bapak itu mengangguk, hampir meneteskan air mata. “Bang… kalo bukan karena terpaksa, mana mau saya beli bensin eceran.”
Mang Seno tersenyum seperti malaikat yang turun bukan untuk menolong, tapi untuk menerima nasib. “Tenang, Pak. Kalo bukan karena terpaksa, mana mau saya jualan begini juga.”
Mereka saling menatap: dua manusia terjebak dalam situasi yang tidak mereka pilih, tapi mereka jalani dengan pasrah dan sedikit humor pahit.
Malam turun. Mang Seno menutup warungnya dengan langkah pelan. Di papan kayu, ia tambahkan tulisan baru:
“DI SINI TEMPAT ORANG TERPAKSA DITOLONG DENGAN IKHLAS.”
Ia menghela napas panjang, bukan putus asa, tapi semacam kebijaksanaan yang tumbuh dari terlalu sering melihat orang kehabisan bensin, baik bensin kendaraan, maupun bensin hidup.
“Ya sudahlah,” gumamnya.
“Walau bukan pilihan utama, tapi tetap harus melayani sepenuh hati… soalnya siapa lagi yang nolong orang-orang kepepet?”
Dan malam itu, seperti biasa, Mang Seno pulang dengan perasaan puas, bukan karena dagangannya laris, tapi karena ia tahu, di dunia yang kacau ini, selalu dibutuhkan satu orang yang siap membantu, meski selalu dihubungi saat keadaan darurat.
