Di sebuah SMA negeri yang berdiri gagah di antara sawah dan gunungan aturan, hiduplah para siswa yang katanya adalah “generasi abu-abu putih”.
Namun belakangan, sebutan itu mulai terasa seperti nama dinosaurus yang sudah punah, sering disebut, tapi jarang terlihat wujudnya.
Sebab mari kita hitung secara jujur dan sederhana.
Senin mereka memakai abu-abu putih. Itu pun cuma sehari dalam seminggu.
Selasa mereka berubah jadi generasi batik.
Rabu mereka menjadi pasukan Pramuka yang kadang lengkap, kadang tinggal setengah atribut.
Kamis menjadi duta budaya dengan baju adat khas daerah.
Jumat berubah lagi menjadi generasi relijius dengan koko atau gamis.
Dan Sabtu, jika masuk, pakai seragam olahraga yang warnanya entah siapa yang tentukan, yang jelas bukan siswa.
Sampai suatu hari Raka, siswa kelas XI, mengeluh kepada sahabatnya, Sela.
“Sel, kita ini generasi apa sebenarnya?”
“Ya generasi abu-abu putih, katanya.”
“Tapi abu-abu putihnya cuma dipakai sehari! Kita ini lebih cocok disebut generasi cosplay mingguan.”
Sela tertawa sambil menutup muka. “Yang penting aturan dipatuhi.”
“Aturan iya,” gumam Raka, “tapi lemari baju kita kayak mau buka butik.”
Hari itu, sekolah kedatangan pengawas dari dinas yang ingin memantau “penerapan keberagaman seragam sebagai wujud kedisiplinan dan kecintaan budaya”. Guru-guru sibuk memastikan semua tampak rapi. Yang tidak rapi? Sembunyikan di sudut.
Pengawas masuk kelas dan bertanya manis, “Bagaimana perasaan kalian dengan seragam yang beragam ini?”
Kelas terdiam. Lalu Raka angkat tangan. Guru langsung terlihat pucat.
“Silakan,” kata pengawas.
Raka berdiri, seolah mau menyampaikan pidato kenegaraan.
“Secara umum, kami bangga, Bu. Tapi…”
Pengawas berhenti tersenyum.
“…kadang seragam yang banyak ini memberatkan orang tua, Bu. Ada yang punya satu seragam adat, ada yang harus pinjam, ada yang beli tiap tahun karena adiknya juga perlu. Belum lagi batik sekolah yang harus dua pasang karena dipakai terus. Seragam banyak, tapi dompet orang tua menipis.”
Kelas mengangguk kompak, seperti sedang menyuarakan isi hati rakyat.
Raka melanjutkan, “Dan tanpa sadar, Bu, siswa jadi saling melihat. Yang baju adatnya bagus, dipuji. Yang seadanya, jadi bahan bisik-bisik. Seragam yang katanya bikin kami sama rata, justru malah bikin kami berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih ‘wah’. Padahal katanya sekolah itu tempat menyamakan, bukan tempat memamerkan.”
Pengawas terdiam. Guru menatap Raka dengan tatapan antara bangga dan takut kehilangan pekerjaan.
“Terakhir, Bu,” kata Raka, “kami cuma ingin jadi generasi abu-abu putih yang sederhana… bukan generasi yang harus ganti identitas setiap hari seperti superhero kehabisan kostum.”
Seminggu kemudian, sekolah mengeluarkan pengumuman penting. Bukan untuk mengurangi seragam, tentu saja, tetapi untuk menambahkan aturan baru: setiap seragam harus diberi label nama.
Para siswa hanya bisa menarik napas panjang.
“Sudah lengkap,” kata Sela.
“Yup,” jawab Raka. “Kita benar-benar sudah jadi generasi multiverse fashion.”
Namun di balik keluhan itu, para siswa mulai lebih paham satu hal:
Bahwa seragam bukan soal siapa yang paling bagus, paling mahal, atau paling lengkap, tapi soal kebersamaan dan kesederhanaan. Dan bahwa aturan yang baik seharusnya tidak hanya enak dilihat, tapi juga ramah bagi orang tua dan tidak membuat siswa saling mengukur deri dari pakaian yang mereka kenakan.
Dan pada akhirnya, generasi abu-abu putih belajar satu pelajaran penting, bahwa identitas mereka tak diukur dari kain yang membungkus tubuh, melainkan dari pikiran yang mereka bawa dan hati yang mereka jaga.
Cerpen by Beng
