February 3, 2026
Media Informasi
Fiksi Terbaru

Luka di Tubuh Kayu, Pukulan di Kepala Paku

Di sebuah bengkel sederhana di pinggir hutan, seonggok kayu jati dan sebatang paku besi tergeletak berdampingan. Keduanya sama–sama diam, namun masing-masing menyimpan cerita yang tak pernah diucapkan.

Kayu memandangi tubuhnya yang mulai penuh bekas tusukan.
Serpihan kecil mengelupas, gurat luka tampak jelas.

“Kenapa setiap kali kita bertemu, kau selalu melukaiku?” gumam Kayu lirih.
“Tiap tusukanmu meninggalkan perih. Apa kau tidak punya cara lain selain menyakitiku?”

Paku tertegun. Ia ingin menjawab, tetapi tak kuasa. Yang ia punya hanya tubuh kaku dan kepala kecil yang terus dipukul.

Andai Kayu bisa mendengar suara hatinya…
“Aku pun tak ingin menyakitimu,” batinnya getir.
“Aku hanya sebatang paku. Tanpa ada yang memukulku, aku tak akan mampu menembusmu. Aku tidak datang membawa luka… aku hanya dipaksa untuk melukai.”

Hari itu, si tukang kembali bekerja. Palu digenggamnya erat.
Kayu pasrah menunggu luka baru. Paku pasrah menunggu pukulan berikutnya.

“SIAP!”
Palu menghantam kepala Paku berkali-kali.

Kayu meringis.
“Aduh! Kau menyakitiku lagi!”

Paku bergetar menahan sakit.
Setiap hantaman palu bukan hanya menancapkan dirinya lebih dalam, tapi juga menghajar kepalanya tanpa ampun.

“Seandainya kau tahu betapa perihnya pukulan ini… mungkin kau tak akan membenciku.”
“Aku pun terluka, Kayu. Tapi lukaku tidak terlihat.”

Sampai akhirnya, pekerjaan tukang selesai. Kayu dan Paku kini menyatu, menopang sebuah rak kayu yang kokoh.

Malam itu bengkel sepi.
Untuk pertama kalinya, suara kecil muncul dari arah Paku.

“Maaf telah melukaimu,” bisiknya perlahan.
“Aku hanya menjalankan yang dipaksa kepadaku. Tanpa dipukul, aku tak mungkin bisa menusukmu. Aku pun sama rapuhnya denganmu.”

Kayu terdiam lama. Hati kecilnya luluh.

“Mungkin selama ini aku hanya melihat lukaku sendiri,” jawab Kayu pelan.
“Aku tak pernah membayangkan bahwa kau pun menderita. Aku mengira kau datang untuk menyakitiku… padahal kau juga korban.”

Paku tersenyum getir.
“Meski kita sama-sama terluka, kini kita berdiri kokoh karena saling menguatkan.”

Kayu mengangguk.
“Sama seperti manusia… kadang kita menyalahkan orang yang melukai kita, tanpa tahu bahwa mereka juga sedang dihantam oleh sesuatu yang tak terlihat.”

Sejak hari itu, Kayu tak lagi memandang Paku sebagai sumber luka.
Dan Paku tak lagi menyalahkan dirinya karena terpaksa melukai.

Keduanya mengerti:
Kadang hidup menghadapkan kita pada peran yang tak kita pilih.
Kadang orang yang melukai kita sebenarnya sedang menahan lebih banyak pukulan dari yang kita bayangkan.

Dan dari luka-luka itu, mereka justru belajar menjadi lebih kuat—bersama.

Sebab setiap luka punya cerita, dan setiap pertemuan punya alasan.

Fiksi by Beng

Related posts

Erick Thohir Temui Mendagri Tito, Matangkan Sport Summit Indonesia

Redaksi

Bea Cukai & Pemda Kuningan Musnahkan 7,2 Juta Batang Rokok Ilegal

Redaksi

PSI Kuningan Usulkan PDAU Dikelola dengan Model Holding Company, Dorong PAD Lebih Efektif

Redaksi

Leave a Comment