Di sebuah kabupaten yang tenang, masyarakat mengenal seorang pemimpin muda bernama Diraya. Tegas namun santun, pekerja keras namun selalu merendah. Namun siapa pun yang mengenalnya tahu, sosok Diraya hari ini adalah buah dari perjalanan panjang, serta tempaan nilai yang diwariskan ayah dan ibunya sejak kecil.
Hari itu, menjelang peringatan Hari Ayah, Diraya berdiri di beranda rumah dinasnya. Angin pagi membawa aroma tanah basah, mengingatkannya pada masa kecil di rumah sederhana milik kedua orang tuanya: pasangan guru, yang mendidik dan membesarkannya hingga menjadi sukses seperti saat ini.
Diraya adalah anak kelima dari enam bersaudara. Rumah mereka tidak besar, tetapi kehangatan selalu penuh, seakan dindingnya dibangun bukan dari batu bata, melainkan dari kasih sayang dan kebijaksanaan.
Ayahnya, bukan hanya seorang guru, tapi juga pendidik kehidupan. Ia tak pernah memarah, namun selalu mengajarkan melalui teladan. “Guyub, saling mengayomi, dan menjaga etika,” itulah tiga prinsip yang tak pernah berhenti diulangnya. “Kalau kamu kelak jadi pemimpin, Ra,” ujar ayahnya suatu malam saat lampu minyak bergoyang perlahan, “ingatlah, kekuasaan itu bukan untuk disanjung, tapi untuk mengayomi.”
Kalimat itu menancap begitu dalam, bahkan hingga kini.
Kini, puluhan tahun kemudian, Diraya berdiri sebagai pemimpin daerah, didampingi istrinya tercinta, yang selalu menjadi tempatnya bersandar ketika tugas berat memanggil. Dari pernikahan mereka, Allah mengaruniai tiga permata hati: yang sangat membanggakan hatinya..
Di balik segala kesibukan memimpin daerah, Diraya paling takut pada satu hal: gagal meneruskan nilai-nilai luhur ayahnya kepada anak-anaknya sendiri.
Pagi itu, sebelum menghadiri acara peringatan Hari Ayah, Diraya menelpon ayahnya. Suara ayahnya sudah tidak sekuat dulu, tetapi tetap penuh wibawa dan kehangatan.
“Assalamu’alaikum, Yah…”
“Wa’alaikumussalam, Ra. Sudah sarapan?” Suara ayahnya terdengar biasa, namun bagi Diraya, itu selalu terasa seperti pelukan.
Diraya tersenyum, menahan haru.
“Yah… Diraya hanya ingin bilang terima kasih. Atas semua yang Ayah ajarkan… semua yang Ayah tanamkan. Tanpa Ayah, Diraya tidak mungkin berdiri di sini hari ini.”
Hening sejenak. Lalu suara lirih ayahnya terdengar pelan, namun penuh makna:
“Diraya, seorang ayah tidak butuh ucapan terima kasih. Yang ayah butuhkan hanyalah melihat anak-anak ayah tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat. Dan kamu, Ra… sudah melebihi doa ayah.”
Diraya menunduk, meski ayahnya tak bisa melihat. Matanya berkaca-kaca.
“kalau suatu saat kamu merasa lelah memimpin, ingatlah satu hal… jangan pernah kehilangan hatimu. Karena ayah bangga bukan karena jabatanmu, tapi karena hatimu.” Lanjut Ayahnya.
Air mata akhirnya jatuh juga, tanpa bisa dicegah.
Dalam acara Hari Ayah siang itu, Diraya berdiri di podium. Namun sebelum membaca teks pidato, ia meletakkan kertas itu di samping.
Ia memilih berbicara dari hati.
“Hari ini,” katanya dengan suara yang bergetar, “saya ingin menghaturkan terima kasih kepada ayah saya. Seorang guru yang mengajarkan kami, anak-anaknya, untuk hidup dalam kebersamaan, saling mengayomi, dan menjaga etika. Nilai-nilai itulah yang saya bawa dalam setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap amanah yang saya pegang.”
“Jika saya berhasil menjadi pemimpin yang baik,” lanjutnya, “itu bukan karena kecerdasan saya… tapi karena didikan dua guru terbaik dalam hidup saya: Ayah dan Ibu.”
Para hadirin terdiam, sebagian menunduk haru.
“Saya berharap,” katanya sambil menahan emosi, “ketiga anak saya, kelak dapat mewarisi nilai yang sama. Karena warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta, bukan pula jabatan, tapi keteladanan.”
Sorak tepuk tangan bergemuruh, namun Diraya tahu, penghargaan sejati bukanlah tepuk tangan itu. Penghargaan sejati adalah ketika ia melihat ayahnya tersenyum bangga.
Malam itu, Diraya pulang ke rumah dengan hati yang lapang. Ia memeluk istrinya, kemudian memanggil anak-anaknya satu per satu.
“Anak-anakku,” katanya lembut, “Ayah ingin kalian tumbuh menjadi orang baik. Sebab itu satu-satunya warisan yang benar-benar berharga dalam hidup ini.”
Anak-anaknya mengangguk, sementara Ela tersenyum haru.
Di luar, angin berhembus membawa suara alam. Dan di hatinya, Diraya merasa seolah ayahnya sedang kembali mengucapkan pesan lama yang tak pernah usai:
“Jadilah pemimpin bagi dirimu sendiri dulu, baru untuk orang lain.”
Di Hari Ayah itu, Diraya sadar bahwa ia sesungguhnya bukan hanya merayakan ayahnya, tetapi juga sedang belajar pelan-pelan menjadi ayah terbaik bagi generasinya sendiri.
Sebab warisan ayah… tak pernah benar-benar berakhir.
Cerpen by Bengpri..Selamat Hari Ayah
