February 3, 2026
Media Informasi
Fiksi Terbaru

Rombongan Polybag yang Tak Pernah Istirahat

Di sebuah desa yang tampak hijau jika dilihat dari foto drone, tapi gersang jika dihadapi secara langsung, hidup sekelompok makhluk tangguh bernama Polybag Squad.

Mereka bukan sembarang polybag. Mereka adalah para penyelamat muka, pahlawan kesiangan, dan korban eksploitasi paling setia bagi para pejabat desa.

Isinya pun bukan sembarang tanaman. Ada Kangkung si cepat tumbuh, Tomat si merah merona, Sawi si penurut, dan Cabe si pedas tapi rapuh.

Mereka semua sudah kehilangan hitungan berapa kali dipindah dari satu acara ke acara lain hanya untuk menutupi “ketiadaan” penghijauan yang dijanjikan tiap tahun.

Pagi itu Kangkung terbangun setelah digotong tergesa-gesa.

“Pindah lagi kita, bro?” gumam Tomat sambil mencoba menjaga buahnya agar tidak jatuh.

“Kayaknya ada kunjungan pejabat kabupaten,” jawab Sawi lirih. Ia sudah bisa menebak. Biasanya, kalau ada suara sandal jepit berlarian dan teriakan, “Cepet! Nanti Pak Camat datang!”, itu artinya mereka harus beraksi lagi.

Cabe, yang paling pedas pendapatnya, menggerutu, “Kita ini apa? Tanaman hias keliling? Capek tau!”

Mereka pun diangkut menuju lapangan desa, tempat banner besar bertuliskan:
GERAKAN PENGHIJAUAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KOSONG DESA MAJU BERSERI

Kangkung terkekeh, “Lahan kosong aja belum dipeta, tapi tiap bulan kita disuruh isi.”

Para pejabat desa berdiri gagah di depan polybag. Bahkan kepala desa sampai memegang satu polybag Kangkung seolah baru saja menanamnya sendiri.

Seorang pejabat kabupaten memuji, “Wah, penghijauan desanya luar biasa. Memanfaatkan lahan kosong. Bagus ini jadi contoh!”

Para pejabat desa senyum sumringah. Sementara Kangkung menatap langit, menahan tawa getir.

Sawi berbisik, “Seandainya mereka tahu kita ini pindahan dari acara kemarin…”

Tomat menimpali, “Jangan bilang gitu. Acara kemarin kita juga pindahan dari acara minggu lalu.”

Cabe mencibir, “Ah sudahlah, nasib kita sudah ditentukan: jadi properti pencitraan abadi.”

Tak berhenti di satu acara, hari itu juga mereka diangkut lagi ke lokasi lain. Katanya untuk kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga.

“Lho, kok kita lagi?” teriak Tomat.

“Ya, karena kalo warga yang diberdayakan nggak ada tanamannya, ya polybag juga yang diberdayakan,” jawab Cabe getir.

Mereka berpindah dari halaman balai desa, ke rumah ketua PKK, ke kebun percobaan, sampai halaman sekolah.

Banner-nya ganti-ganti, tapi pemerannya tetap sama: Polybag Squad.

Malamnya, setelah semua pejabat pulang dan seremoni selesai, polybag itu dikumpulkan di gudang belakang balai desa.

Kangkung memecah keheningan. “Teman-teman, kita harus ambil sikap. Kita terlalu sering jadi alat pencitraan.”

“Betul!” sambung Cabe dengan suara tinggi. “Kita harus minta hak cuti minimal seminggu sekali!”

“Dan lokasinya tetap dong. Jangan pindah-pindah melulu,” tambah Tomat sambil membetulkan daunnya.

Akhirnya diputuskan: besok mereka akan melakukan aksi diam—atau lebih tepatnya aksi layu massal.

Keesokan harinya, ketika acara Launching Kawasan Hijau Kreatif digelar, para pejabat dikejutkan dengan pemandangan tak terduga:

Semua polybag terlihat… lemas dan lunglai.

Daun Sawi melengkung. Kangkung merunduk sedih. Tomat merona pucat. Cabe pun tak lagi nampak bersemangat.

“Waduh! Kenapa ini? Kenapa layu semua?” Kepala desa panik.

“Mana bisa kita pamerkan ke pak bupati besok!” teriak staf desa.

Sang ketua panitia pun berkata pelan, “Pak… mungkin… mereka kecapekan dibawa ke tiga acara sehari…”

Suasana hening.

Pejabat desa saling pandang. Untuk pertama kalinya, mereka sadar:

Polybag juga punya perasaan.

Setelah kejadian itu, polybag tidak lagi dipindah-pindah setiap muncul acara. Mereka diberi area tetap—meski kecil—untuk tumbuh tenang.

Dan kalaupun ada acara besar, pejabat desa akhirnya memilih untuk benar-benar membuat lahan penghijauan yang nyata, bukan keliling tour polybag.

Polybag Squad pun hidup lebih tenang.

Cabe tersenyum, “Akhirnya kita nggak jadi artis keliling lagi.”

Kangkung membalas, “Iya. Tapi kalau nanti ada acara lagi… mungkin kita tetep dipake.”

Tomat tertawa kecil. “Gapapa. Yang penting sekarang kita punya hak istirahat.”

Sawi mengangguk pelan. “Dan kita bukan cuma dekorasi pencitraan.”

Mereka pun menikmati sinar matahari pagi yang pertama sebagai tanaman “tetap”.

Sementara itu, para pejabat desa—entah sadar atau terpaksa—akhirnya menanam tanaman beneran di lahan kosong yang sesungguhnya.

Polybag Squad tersenyum damai.

Untuk pertama kalinya, mereka merasa menjadi pahlawan yang sebenarnya. Bukan pahlawan pencitraan.

Cerpen by Beng

Related posts

Dedi Mulyadi Bikin Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Hasil Bumi Siap Meluncur ke Kota!

Redaksi

Disebut Pahlawan Ekonomi Lokal! Begini Ucapan Mengejutkan Bupati Kuningan untuk Driver Online GDOC

Redaksi

DPR Awasi Kasus Keracunan MBG di Bandung Barat, Cucun Ahmad Syamsurijal Tinjau Dapur SPPG

Redaksi

Leave a Comment