February 3, 2026
Media Informasi
Fiksi Terbaru

Dua Telur Asin dan Seorang Bupati

Pagi itu langit tampak cerah, seolah ikut merayakan semangat Gerakan Gemar Minum Susu, Makan Telur, dan Ikan yang digelar di lapangan desa.

Spanduk besar berkibar pelan tertiup angin, anak-anak sekolah berbaris rapi, sementara para ibu tersenyum bangga melihat putra-putrinya siap mengikuti kegiatan.

Di barisan tamu kehormatan, Bupati Diraya berdiri dengan senyum tulus. Namun di balik senyum itu, wajahnya memancarkan sesuatu yang berbeda.

Sebuah kenangan yang tiba-tiba menyeruak begitu ia melihat tumpukan telur, susu, dan ikan yang disiapkan panitia.

“Bapak Bupati, silakan memberikan sambutan,” ujar MC dengan suara lantang.

Diraya melangkah ke podium. Tapi sebelum kata pertama keluar, bayangan masa kecilnya hadir begitu jelas.

Ia kembali menjadi seorang bocah kecil di rumah panggung sederhana milik keluarganya. Anak kelima dari enam bersaudara, ramai, riuh, namun hangat dengan kasih sayang kedua orang tuanya yang sama-sama berprofesi sebagai seorang guru.

Setiap pagi, sebelum berangkat mengajar, ibunya selalu pulang dulu dari warung kecil di ujung gang, membawa dua butir telur asin yang terbungkus koran.

“Hanya dua hari ini, tapi cukup buat kalian berenam ya,” ucap ibunya sambil tersenyum lelah, namun penuh kasih.

Dua telur asin itu kemudian dibelah tipis-tipis. Keenam anak bersaudara itu berebut bukan karena lapar, tapi karena rasa hormat pada pengorbanan ibunya.

Ibunya tak pernah makan bagian telur itu, ia hanya memastikan anak-anaknya cukup gizi agar mereka tumbuh kuat dan sehat.

“Tidak apa sederhana. Yang penting kalian tidak kekurangan gizi. Kalian harus sekolah tinggi, hidup baik, dan jangan jadi kecil hati hanya karena kita hidup sederhana,” begitu ujar ibunya setiap pagi.

Diraya kecil selalu menghapal kata-kata itu.

Ia tumbuh dari kesederhanaan itu, dari dua telur asin, sepiring nasi hangat, dan cinta yang tak pernah menuntut balas.

Dan hari itu, ketika berdiri di podium sebagai bupati, ia menyadari betapa kuat pondasi hidup yang dibangun oleh ibunya.

Hening sejenak. Diraya menghela napas pelan sebelum memulai sambutannya.

“Ketika saya melihat telur, susu, dan ikan di acara ini,” ucapnya, suaranya bergetar lembut, “saya teringat masa kecil saya. Ibu saya seorang guru. Setiap pagi, beliau membeli dua telur asin. Dua telur ini dibagi untuk enam orang anaknya.”

Para hadirin mulai memperhatikan lebih khidmat.

“Walaupun sederhana, ibu saya tidak pernah mengabaikan kebutuhan gizi kami. Dari kesederhanaan itulah, kami enam bersaudara bisa tumbuh, belajar, dan alhamdulillah… bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya berdiri di sini sebagai bupati bukan karena saya hebat, tapi karena saya dibesarkan oleh nilai-nilai ketulusan.”

Beberapa ibu di antara barisan peserta tampak mengusap mata.

Diraya melanjutkan, “Saya ingin anak-anak kita hari ini merasakan hal yang sama, bukan hanya makanannya, tapi perhatian dan kasih sayang orang tua yang menjadi kekuatan utama untuk masa depan mereka.”

Tepuk tangan menggelegar.

Di balik panggung, istrinya, tersenyum bangga. Tiga anak mereka, sering mendengar cerita itu dari ayahnya, namun baru kali ini cerita itu dibagikan kepada masyarakat luas.

Ketika kegiatan selesai, seorang anak kecil mendekati Diraya sambil memegang segelas susu.

“Pak Bupati… kalau saya minum susu tiap hari, apa saya bisa jadi orang hebat juga?”

Diraya tersenyum, menepuk pelan kepala bocah itu.

“Kamu bisa jadi apa pun. Yang penting kamu semangat, belajar, dan selalu ingat kebaikan orang tua. Itu yang membuat hidupmu kuat.”

Bocah itu mengangguk, lalu berlari kembali ke barisannya.

Diraya menatap anak-anak yang tertawa dan berlarian di lapangan. Di dadanya, ada haru yang menghangat.

Kesederhanaan telah membesarkan dirinya. Dan hari ini, ia ingin memastikan bahwa tidak ada anak di daerahnya yang tumbuh tanpa gizi, tanpa perhatian, tanpa harapan.

Karena ia tahu betul, dari dua telur asin yang dibagi untuk enam bersaudara… lahirlah masa depan. Dan masa depan itu kini berdiri sebagai bupati, si anak kelima dari keluarga guru yang penuh cinta.

Cerpen yang terinspirasi dari cerita seorang Tokoh yang Menginspirasi

Related posts

Terinspirasi Pesan Ibu Wapres, Bunda Ela Siap Wujudkan PAUD Inklusif dan Menyenangkan di Kuningan

Redaksi

Dua Lulusan UNIKU Langsung Direkrut Ajaib, Dapat Bonus Umroh!

Redaksi

Bupati Kuningan Sindir Orang Tua: “Tak Punya Rokok Gelisah, Tapi Lupa Anak Butuh Gizi!”

Redaksi

Leave a Comment