Pagi di sebuah kabupaten selalu punya aroma yang khas, campuran antara kabut gunung dan suara ayam yang memanggil matahari.
Dari ruang kerjanya di pendopo, Diraya duduk menatap setumpuk laporan. Di layar laptopnya, angka besar terpampang: Pertumbuhan Ekonomi 10,4%.
Banyak orang bertepuk tangan. Media sosial ramai membicarakan, sebagian bangga, sebagian curiga.
Namun bagi Diraya, angka itu bukan sekadar statistik yang bisa dijadikan bahan pidato. Ia tahu, di balik 10,4 persen itu, ada peluh dan napas rakyat yang bekerja siang malam.
“Sepuluh koma empat persen,” gumamnya pelan. “Tapi… apakah mereka semua sudah benar-benar tersenyum?”
Ia menatap jendela, melihat jalan di depan pendopo yang baru saja selesai diperbaiki. Dulu berlubang, kini mulus.
Ia masih ingat bagaimana dulu ia turun sendiri ke lapangan, berdiri di bawah hujan, mengawasi pekerja yang menambal aspal hingga larut malam.
“Kalau jalan ini selesai, pedagang sayur di desa bisa hemat waktu dua jam,” katanya kala itu pada timnya.
Dan benar, seminggu setelah rampung, pasar kecil di kaki gunung kembali ramai. Roda ekonomi bergerak dari jalan yang dulu dianggap sepele.
Beberapa hari kemudian, Diraya meninjau gudang pupuk di kecamatan sebelah. Ia berdiri di antara karung-karung pupuk dan benih padi yang siap dibagikan.
“Pastikan distribusinya tepat sasaran,” pesannya dengan tegas.
Baginya, subsidi pupuk dan benih gratis bukan hanya soal angka bantuan, tapi tentang harapan para petani yang hidupnya bergantung pada musim.
Ia masih ingat senyum Pak Mulyadi, petani tua yang menggenggam benih di tangannya.
“Kalau panen berhasil, Pak, nanti saya kasih beras hasil benih ini,” katanya sambil tertawa kecil.
Diraya menepuk bahunya. “Itu hadiah terbaik yang bisa Bapak kasih buat saya.”
Suatu sore, Diraya berdiri di tepi bendungan. Dari tangannya sendiri ia menebar bibit ikan ke permukaan air yang berkilau diterpa senja.
Anak-anak desa bersorak gembira melihat ribuan ikan kecil berenang lepas.
Bagi mereka, itu sekadar permainan air.
Bagi Diraya, itu adalah simbol kehidupan, ekonomi yang berputar dari sungai hingga pasar.
“Suatu hari nanti,” pikirnya, “ikan-ikan ini akan memberi makan keluarga yang bahkan belum aku kenal.”
Program demi program berjalan. Gerakan pangan murah yang ia gagas membuat warga tak lagi resah menghadapi kenaikan harga.
Ia bahkan turun langsung ke lapangan, berdiri di tengah panas pasar, membagikan kupon beras dan minyak goreng murah.
Seorang ibu muda sempat menyalaminya sambil berbisik,
“Pak, harga telur sudah turun sedikit. Terima kasih.”
Diraya hanya tersenyum. “Itu bukan kerja saya sendiri, Bu. Itu kerja kita semua.”
Ia juga mendatangi para pedagang kaki lima (PKL) yang sempat terpukul akibat pandemi dan sepinya pembeli.
“Bantuan ini mungkin kecil,” katanya saat menyerahkan amplop berisi stimulan usaha, “tapi semoga bisa mengembalikan semangat.”
Beberapa hari kemudian, warung-warung kecil di alun-alun kembali buka. Lampu-lampu kembali menyala, dan aroma sate kembali memenuhi udara malam Kuningan.
Tak berhenti di situ. Diraya membuka lapangan kerja baru dengan menggerakkan proyek padat karya dan investasi lokal.
Ia tahu, setiap pekerjaan baru bukan hanya menghidupi satu orang, tapi satu keluarga.
Ia bahkan turun ke lokasi proyek penyelesaian tunda bayar investasi daerah, berbicara langsung dengan kontraktor dan pekerja.
“Kepercayaan itu mahal,” katanya tegas. “Kalau kita berani menepati janji, ekonomi akan bergerak sendiri.”
Malam itu, setelah seharian berkeliling, Diraya kembali ke ruang kerjanya yang sepi. Laporan BPS masih terbuka di meja.
Ia menatap angka 10,4% itu sekali lagi, kali ini bukan dengan kebanggaan, tapi dengan rasa syukur yang tenang.
Di luar, lampu jalan menyala, menerangi jalur yang baru diperbaiki. Dari kejauhan, suara tawa anak-anak di pasar malam terdengar samar.
Ia tahu, sebagian dari tawa itu lahir dari hasil kerja kerasnya dan timnya.
Diraya menulis sesuatu di buku catatan pribadinya:
“Angka boleh naik turun, tapi senyum rakyat harus tetap tumbuh. Karena pertumbuhan sejati bukan dari statistik, melainkan dari kehidupan yang terasa lebih baik.”
Ia menutup bukunya perlahan. Di luar, angin malam Kuningan berhembus lembut, membawa pesan diam yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang bekerja bukan untuk sorak, tapi untuk senyum di balik angka.
