February 3, 2026
Media Informasi
Fiksi Terbaru

Ayah yang Selalu Diam

Setiap pagi, Ayah berangkat kerja dengan seragam lusuh yang mulai pudar warnanya. Tas selempang hitamnya sudah robek di sisi, dijahit seadanya oleh tangannya sendiri.

Ia bekerja sebagai tukang ojek pangkalan di ujung gang, kerja yang tak pernah membuatnya kaya, tapi cukup untuk sekadar menyalakan kompor di rumah dan membayar listrik agar lampu ruang tamu tak padam.

Sementara itu, Ibu bekerja di kantor pemerintahan. Gajinya besar, bicaranya lantang, dan langkahnya selalu cepat. Ibu sering pulang dengan cerita tentang rapat, tunjangan, dan teman-temannya yang “berkelas”.

Tapi yang paling sering ia bawa pulang bukanlah oleh-oleh, melainkan nada tinggi dan kalimat tajam yang melukai hati.

“Coba kamu itu kerja yang bener! Masa tukang ojek terus? Malu aku punya suami kayak kamu!” serunya suatu malam, di hadapan dua anak mereka yang masih duduk di bangku SD.

Ayah diam.
Ia hanya menunduk, memandangi lantai seperti sedang menghitung butiran debu.

Anak sulungnya, Rafi, menatap wajah ayahnya dengan bingung.
“Yah, emang salah ya kerja jadi tukang ojek?” tanyanya polos.
Ayah tersenyum. “Gak salah, Nak. Selama kerja halal dan buat orang lain senang, gak ada yang salah.”

Tapi Ibu menggeleng keras. “Kamu tuh ngajarin anak buat pasrah! Dunia ini keras, Fi! Jangan jadi kayak bapakmu, gak punya cita-cita tinggi!”

Sejak malam itu, rumah seperti kehilangan hangatnya.
Anak-anak mulai belajar membedakan “yang kaya” dan “yang tidak”.

Mereka mulai tahu, bahwa teman-teman di sekolah sering menertawakan ayahnya yang mangkal di depan minimarket.

“Ayahmu tuh yang ojek itu ya? Wah, ibumu kan pegawai, kok gak malu?” tanya salah satu teman Rafi.
Rafi menelan ludah, menunduk, dan tak menjawab.

Suatu sore, hujan deras mengguyur. Ibu belum pulang, katanya ada lembur. Ayah tetap di luar, menunggu penumpang di pangkalan dengan jas hujan yang bolong di bahu.

Rafi melihat dari jendela, ayahnya menggigil, tapi tetap tersenyum ketika seorang ibu dan anak kecil menaiki motornya.

Malamnya, Ayah pulang basah kuyup. Tangannya dingin, bibirnya biru. Ia menaruh uang hasil narik di atas meja makan: lembaran kecil yang terlipat rapi.

“Buat beli susu adik, ya,” katanya pelan.
Ibu hanya mendengus. “Sedikit amat. Cuma segini?”

Tak lama setelah itu, Ayah mulai sering batuk. Ia jarang keluar rumah. Motor tuanya rusak, dan butuh biaya perbaikan yang tak sanggup ia bayar.

Namun anehnya, selama sakit pun Ayah tetap tersenyum, terutama ketika anak-anak menemaninya.
“Yah, nanti kalo aku gede, aku beliin ayah motor baru,” kata Rafi, menahan air mata.

Ayah tertawa kecil. “Gak usah, Nak. Cukup jadi orang baik, itu udah bikin Ayah bangga.”

Beberapa minggu kemudian, Ayah berpulang.
Ia pergi dalam diam, tanpa meninggalkan banyak harta, hanya sepeda motor butut, helm retak, dan selembar surat kecil yang dilipat rapi di dalam laci.

Surat itu ditulis dengan tinta yang mulai pudar:

“Untuk anak-anakku,
Jangan pernah malu pada ayahmu.
Karena kebahagiaan ayah bukan soal uang, tapi soal bisa pulang membawa senyum kalian.
Kalau nanti kalian berhasil, jangan ukur manusia dari isi dompetnya, tapi dari cara ia bertahan untuk orang-orang yang ia cintai.”

Ibu membaca surat itu sambil menangis untuk pertama kalinya di depan anak-anaknya.
Di luar, hujan turun lagi, seperti ingin menghapus sisa-sisa ego yang dulu pernah menodai cinta di rumah kecil mereka.

Dan Rafi, yang kini remaja, masih sering melihat ke arah pangkalan ojek itu setiap ia berangkat sekolah.

Bangkunya sudah kosong, tapi di sana ia masih bisa merasakan hangatnya senyum yang tak pernah marah, senyum seorang ayah yang mungkin kalah di dunia, tapi menang di hati anak-anaknya.

Related posts

Bupati Dian Serahkan SK kepada 88 Pegawai BLUD Puskesmas Kuningan

Redaksi

Bunda Ela Helayati: Dengan Melihat Jelas, Anak-Anak Kuningan Bisa Menatap Masa Depan Lebih Cerah

Redaksi

Bupati Kuningan Buka Pelatihan AI Ignition Program, Dorong UMKM Kuasai Teknologi

Redaksi

Leave a Comment